Rabu, 28 Juli 2010

"SEDIKIT CATATAN TENTANG KOMUNISME"

Karl Marx berangan-angan menciptakan dunia baru yang lebih adil, dunia yang setara dan sama rata, yang hanya dapat dicapai dengan penghapusan kelas dan menjadikan dunia yang tanpa kelas. Ideologi ini lebih kita kenal dengan nama Marxisme, ayah kandung dari komunisme.

Ide ( yang revolusioner ) ini segera mendapat sambutan luas di kalangan kelas pekerja, dengan semangat besar mereka mulai mengorganisasi diri, mengadakan aksi, rapat-rapat umum, demonstrasi dan pemogokan buruh.
Tujuan mereka adalah meniadakan perbedaan kelas dan mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih bermartabat.

Pada perkembangannya Marxisme berbaur dengan paham-paham lain (yang terkadang bertolak belakang dengan pandangan marxisme sendiri ) hingga terciptalah paham komunisme yang dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa bahkan dunia dengan Uni Soviet sebagai pusatnya.

Banyak orang (karena kepolosan dan kebencian mereka terhadap kapitalisme) yang silau dan terpana dengan slogan-slogan dan propaganda partai. Namun demikian, cita-cita yang diagungkan itu tidak pernah terwujud, persamaan yang didambakan tetap menjadi mimpi yang semu.

Komunisme sendiri pada akhirnya berkembang menjadi sebuah partai kediktatoran, yang menistakan manusia dan kemanusiaannya. Segala kebijakan yang berlaku adalah kebijakan partai, hanya ada satu pendapat yang benar yaitu pendapat partai, segala kepentingan adalah kepentingan partai. Seluruh kritikan terhadap keputusan yang telah diambil dianggap penyelewengan terhadap partai, dan memikirkan diri sendiri dianggap bermental borjuis, tidak setuju dianggap mata-mata pendukung trotsky, jika sudah demikian maka bersiaplah dicap sebagai kontra revolusioner, sebuah kata yang berarti, pengucilan, pemfitnahan, sabotase dan penyingkiran dari dunia. Bahkan untuk menegaskan hal tersebut, slogan partai komunis di Jerman waktu itu adalah: “ Garis depan bukanlah tempat untuk berdiskusi.” Dan slogan lain mengatakan: “ Dimanapun seorang komunis berada, dia selalu di garis depan.”

Kegagalan komunis yang lain adalah mencintai orang miskin. Stephen Spender mengutip : “ Partai mengajarkan kebencian kepada kaum borjuis tapi tidak pernah menganjurkan kasih sayang pada kaum miskin.”

Para pekerja tetap hidup daLam kondisi yang menyedihkan. Lenyapnya kapitalis tidak menghadiahkan kesejahteraan untuk mereka. memang mereka sudah tidak lagi dieksploitasi oleh pemilik modal, namun mereka tetap dieksploitasi, dan eksploitasi itu sedemikian licik, rumit, dan berbelit-belit hingga mereka tidak tahu lagi siapa yang harus dipersalahkan.

Kalimat Marx yang sangat dikenal adalah yang mengatakan bahwa “Agama adalah candu bagi rakyat.” Namun dalam perkembangannya Marxisme justru menjadi lebih dari sekedar candu bagi peradaban manusia. Ratusan juta orang diseluruh dunia menjadi korban dalam usaha menegakkan komunisme ini, apa yang disebut oleh kaum Bolshevik, sebagai "Novus Ordum Seclorum", atau "tatanan dunia baru"....itulah tujuan mereka..menyatukan seluruh umat manusia tanpa adanya batasan kelas, agama, kesukuan dan kerajaan..dan penyatuan itu dilakukan dengan pelenyapan batasan tersebut.

WAJAH GERAKAN KOMUNISME DI INDONESIA

Pada tahun-tahun yg lalu, peringatan tentang adanya bahaya laten komunis ini sering ditanggapi dingin, bahkan sinis oleh banyak pihak. Hal ini akibat mudahnya Pemerintah Orde Baru memberikan "CAP KOMUNIS" atau "PKI" terhadap tokoh atau kelompok radikal - apalagi yg dianggap menentang pemerintah - maka setiap peringatan atau perbincangan tentang adanya bahaya laten komunis selalu ditanggapi dengan sikap "sinis" bahkan dipandang "mengada-ada", juga dianggap sebagai dalih saja utk mengalihkan perhatian masyarakat dari suatu masalah yang sedang menjadi sorotan publik / masyarakat atau mencari 'kambing hitam' (tajuk, Suara Pembaharuan, Edisi 7 Agustus 1996).

Padahal ikhwal bahaya latent komunis tidaklah main-main karena SEBAGAI IDEOLOGI. KOMUNISME TIDAK AKAN PERNAH MATIi. Paling-paling, kata Prof. Geoffrey B. Bainsworth, "HANYA TIDUR ATAU SEKARAT TAPI TIDAK AKAN MATI !".

Apalagi komunisme, disamping suatu ideologi yg tidak akan pernah mati - juga merupakan gerakan internasional yg menggunakan "dua wajah" yakni legal dan illegal, gerakan bawah tanah.

Last but not least, di Indonesia, Partai Komunis Indonesia (PKI) - yang pada pemilu I tahun 1955 berhasil tampil sebagai "empat besar" bersama PNI, Masyumi, dan NU adalah partai komunis terbesar di dunia, di luar Uni Sovyet dan RRC, sebagaimana dikatakan oleh Arnold C. Brackmann dalam bukunya Indonesian Communism: A History 1963: Is the largest in the world outside the sino-Sovyet Block ! Jadi, logikanya mungkin kalau PKI tidak ingin comeback, walaupun dengan gaya dan bentuk lain.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa letak kekuatan komunis sehingga akan selalu menjadi latent adalah :

pertama : komunis adalah suatu ideologi, dan karena itu tidak akan pernah mati ;

kedua : komunisme adalah suatu gerakan internasional yang mempunyai jaringan di seluruh dunia ;

ketiga : komunisme adalah gerakan yang berwajah "ganda", yakni legal dan illegal (gerakan bawah tanah), yang populer dengan sebutan "PKI siang dan PKI malam" ;

keempat : dalam mencapai tujuannya, komunis menggunakan cara kekerasan dan "menghalalkan segala cara" (het doe / heigh de middeles) ;

kelima : mahir dalam taktik dan sistem pendidikan kader di dalam dan luar negeri, sehingga mahir pula memanfaatkan orang lain, dan orang lan yang mudah dimanfatkan inilah yang dalam terminologi komunis disebut "orang-orang tolol berguna" (the fellow traveller) orang-orang dengan kategori inilah yang akan selalu selalu dimanfaatkan dan dijadikan perisai sebagai martir dalam gerakan komunis.

Dengan demikian, komunisme adalah ibarat ilalang setiap kali dibabat akan tumbuh lagi - sehingga perlu dibabat sampai ke akar-akarnya.

Tak syak lagi bahwa komunisme masih tetap dan akan terus merupakan bahaya latent sebab menurut para eks tapol PKI sendiri, sekarang ini PKI masih punya banyak kader. Sekalipun secara fisik sudah mati namun secara ideologi tak akan pernah mati, karena "memiliki kaki untuk berjalan kemana-mana"

"PROTOKOLAT ZIONIS"

Protokolat Zionis I :

.....tidak sedikit orang yang bersedia mengorbankan masyarakat untuk kepentingan pribadinya…..yaitu dengan cara menarik dan mengumpulkan masa rakyat unt digunakan melindas kelompok lain yang berkuasa…… tugas ini akan mudah sekali jika pihak oposisi telah diinjeksi dengan ide kemerdekaan atau liberalisme. Dengan ide itu mereka akan berusaha meraih kekuasaan . dan saat itulah kehebatan teori kita terbukti. Maka kekuasaan pemerintah yang lemah itu segera terjebak dan berpindah tangan melalui hukum alam. rakyat yang bodoh dan buta akan saling berlomba dan kalap kedalam pertentangan ke-partai-an . mereka akan mengeluarkan biaya yang besar….karena kebodohan mereka akan menjadi rahasia politik , oleh karena itu yang terjadi adalah kekacauan dalam pemerintahan “.

Protokolat Zionis II :

” Kita bermaksud tampil sebagai pembebas buruh ( RAKYAT KECIL/ KAUM MARJINAL) dan membebaskan mereka dari kedhaliman . Kita akan menasihati mereka supaya meraka mau bergabung dalam tingkat-tingkat pasukan kita yang terdiri dari kaum sosialis , pengacau dan komunis . AKAN SELALU BERADA DALAM KONDISI MEMBANGUN "KOMUNISME"dan memeliharanya, dengan kedok seolah-olah kita membela kaum buruh dengan suka rela, demi ide persaudaraan ( Nasionalisme / Prulalisme ) dan kepentingan umum ( Demokrasi ) atau kemanusiaan ( HAM ! ) . Letak kekuatan kita pada kemiskinan kaum buruh dan penyakit yang berkepanjanganan , yang dengan itu mereka akan terus dibawah perbudakan kita “.

Protokolat Zionis III :

” Kita akan kuasai kelompok itu dengan adanya rasa dengki dan kebencian yang terus menerus , akibat kesempitan dan kemiskinan ( resesi ekonomi ) Rasa ini adalah sarana yang akan bisa mengikis habis setiap gerakan yang akan melawan kita ( memperalat masyarakat sulit ekonomi untuk tindakan anarkis / imsosialisme ).

Protokolat Zionis IV :

“……Itulah sebabnya mengapa kita harus mencabut pemikiran ketuhanan itu dari mereka dan menggantinya dengan menyibukan mereka dalam menghitung-hitung kebutuhan materi “.

Protokolat Zionis V :

” Kita akan mendorong mereka untuk hidup bermewah2 an tanpa batas sebagaimana yang telah kita lakukan sebelum ini …kita akan menaikan harga komoditi barang kebutuhan pokok karena alasan buruknya hasil panen ….kita sebarkan kegemaran mereka bermabuk-mabukkan ...dan obat-obat lainnya ( Narkoba ) . Saat itu pula kita akan pakai semua sarana untuk mengusir semua orang pandai diantar mereka , yaitu orang2 non yahudi dari muka bumi . Kita tak perlu memperhitungkan nasib mereka disaat mereka butuh kepada kita. …propaganda kita didalam bidang ekonomi akan membantu kearah itu “.

Protokolat Zionis VI :

” Kita wajib MENYEBARKAN FITNAH diseluruh pelosok dunia , dengan metode itu , kita akan bisa menguasai mereka dengan jaringan uang ( IMF/ Bank Dunia,), YANG telah kita pasang pada setiap kementrian dalam pemerintahan itu melalui politik kerjasama keuangan dan Industri ( hubungan Dagang ) , Akan tetapi dengan bahasa resmi kita akan berbuat sebaliknya ( berkhianat ) “.

Protokolat Zionis VII :

” Bahwa banyak kekuatan Polisi yang mutlak kita butuhkan untuk menuntaskan garis-garis yang dimuka . Dan hendaklah diseluruh dunia ada kelompok - kelompok yang terdiri dari beberapa kelas MANUSIA DUNGU ditambah kekuatan militer dan polisi yang ikhlas menjalankan tujuan-tujuan kita .

Dr. Majid Khailani :” Orang-orang Yahudi-lah yang mendirikan komunisme dan meletakan dasar2-nya (nb: Karl Marx anggota Freemansonry dgn no. 31). Mereka beranggapan bahwa komunisme adalah sarana yang paling tepat untuk membangkitkan fitnah dan kekacauan , untuk menghancurkan kekuatan rakyat ( persatuan ) dan memecah belah unsur organisasi ( Pemerintahan resmi ) yang ada “ .

Protokolat zionis IX :

” Kita telah dapat menipu generasi yang baru ( generasi muda ) , ……mereka telah dapat kita rusak dgn banyaknya virus yang mengerumuni otak mereka (Westernisasi / Liberalisme) …..yang disebarkan lewat pengajaran tentang doktrin maupun hasil pemikiran kita yang telah kita palsukan sebelumnya….kitapun dengan amat mudah mengganti dengan memberikan sedikit penafsiran untuk merubah segala bentuk peraturan dan hukum yang mereka miliki sebelumnya .

Protokolat Zionis X :

” Kekuasan kita bermula, sejak rakyat yang telah dikoyak-koyak oleh perpecahan (SARA ) dan tersiksa dibawah kebangkrutan para penguasa mereka. Kondisi seperti itulah yang akan bisa kita kendalikan dibawah kekuasaan. Mereka akan meneriakan yel-yel : “ Gulingkan Mereka , dan berilah kami penguasa tunggal yang bersifat internasional, yang akan menyatukan kita dan akan menghapus sebab2 perpecahan ……” Teriakan rakyat seperti itu akan selalu kita dengar , …Permusuhan dan kebencian akan terus berlangsung , disamping banyak kematian akibat kelaparan dan kemiskinan maupun penyakit menular lainnya. Demikian seterusnya sampai akhirnya orang2 ummi ( non yahudi ) tidak mendapatkan jalan keluar dari kondisi buruk kecuali lari berlindung dibawah kekuasaan harta benda kita dan pengaruh kita yang penuh “.

Protokolat Zionis XVII :

“ Kita telah berjuang dengan gigih menghancurkan kehormatan ahli agama dari golongan non yahudi …kita berhasil mengacau misi mereka yang akan menghambat tujuan kita ….Waktu kehancuran agama Masehi ( Kristen ) tidak lama lagi ….tinggal agama lain yang mudah untuk merobohkannya…kita batasi peran para pendeta dan ahli-ahli agama, kita sudutkan kepojok-pojok dan tak dapat lagi berkutik , maka pengaruh mereka tak lagi diperhatikan ….kita angkat seorang penguasa Israel sebagai paus bagi seluruh alam “.

Refrensi tambahan :
http://forum.dudung.net/index.php/topic,10165.0.html
http://swaramuslim.net/ebook/more.php?id=5785_0_11_0_M
http://aneshusen.multiply.com/journal/item/28/MENANGGAPI_DISKUSI_SOAL_PROTOCOL_OF_ZION
http://aneshusen.multiply.com/tag/konspirasi%20purba%3F

"KOMUNISME INTERNASIONAL DAN UPAYA MEMBANGKITKAN KEMBALI KOMUNISME DI INDONESIA "(Bagian.3)

KOMUNIS TERUS MELAKUKAN GERPOL DAN PROVOKASI


Di awal era Perang Dingin antara sistem Kapitalis (baca: Amerika Serikat) dan sistem Komunis
(Uni Soviet, RRC dan satelitnya), Menlu AS pernah menyatakan bahwa "The main battlefield against Communism is in the kitchen." Ditengarai bahwa kemiskinan dapat menjadi
lahan subur bagi tumbuhnya Komunisme. Paham Komunisme/Marxisme tidak laku di tengah rakyat yang serba cukup dan pemerintah yang "adil".

Di negara sebebas Amerika Serkat jumlah orang Komunis dilaporkan Badan Investigasi Federal (FBI) s/d 1990-an awal tidak lebih dari 2000 orang. Pada masa itu tercatat jumlah tunawisma ("homeless") mencapai sekitar 37 juta orang.
Di Eropa Barat, setelah Komunis Uni Soviet ambruk, ditengarai bahwa badan Amnesty Internasional disusupi juga oleh sekelompok orang-orang "New Left" yang berorientasi Sosialis komunis (Stalinis). Beberapa tahun yang lalu ditengarai ada seorang anggota DPRD di Yogyakarta, dari fraksi satu parpol
besar, berindikasi "merah".

Maret yang lalu Harian REPUBLIKA mengutip penilaian seorang pemerhati, bahwa aksi penebangan hutan di Kabupaten Gunung Kidul berpola ciri khas aksi sepihak PKI selama periode 1960-an pra Gerakan Dewan Revolusi PKI.
Ketika pada tahun 1992 penulis mengantar kawan ke Panggang, Gunung Kidul, penduduk setempat melaporkan adanya kegiatan kelompok "Islam" aneh di sana. Mereka shalat tanpa berwudlu dan tidak mau berasosiasi dengan muslim setempat. Desa kelompok aneh itu pada dekade 1960-an dikenal sebagai
sebagai basis kuat PKI. Seorang anggota jemaah aneh itu rutin pergi ke Jakarta naik bis malam untuk
mengambil dana dari sponsornya di Jakarta?

Beberapa hari setelah kerusuhan Mei 1998 di Jabotabek, seorang tokoh buruh yang oleh sebuah majalah mingguan terkenal ditengarai berayah tokoh BTI di Sumatera, menyatakan bahwa kerusuhan berdarah itu diotaki oleh kelompok Islam. Tokoh yang asal ngomong alias ngawur ini, yang kalau mengenakan peci berpenampilan mirip pentolan PKI Muso, buru-buru meminta maaf ketika pernyataan ngawurnya itu mengakibatkan kelompok muslim bereaksi sangat keras.

Kelompok ini mengungkapkan "dossier" (data lengkap profil jati diri) tokoh sosialis kiri ini, yang diyakini pernah mencoba "menghilangkan jejak" latar belakang "merahnya", antara lain dengan mengubah (baca: memalsukanjatidirinya (identitas diri)).

AWAL KEBANGKITAN SISA-SISA KOMUNIS

Inilah awal kebangkitan sisa-sisa dan simpatisan serta anak-cucu-keponakan mantan tokoh PKI. Seorang saksi yang kebetulan juga putera mantan Pejuang Perang Kemerdekaan (T.P.), dalam perjalanan ke Jakarta dengan KA malam berdialog dengan beberapa mahasiswa. Kelompok kecil mahasiswa itu turun di stasiun Cirebon, dan menghilang ditelan kegelapan malam. Salah satu dari generasi muda keblinger itu menyatakan, bahwa terpuruknya bangsa ini hanya dapat diselesaikan melalui revolusi, yaitu dengan menghancurkan seluruh sarana dan prasarana ekonomi, agar seluruh komponen masyarakat melarat untuk bersama-sama memulai dari nol lagi. Indikasi ke arah itu, yaitu
kebangkitan PKI gaya baru bukan isapan jempol belaka.

Lengsernya Soeharto, dan otomatis ambruknya rejim Orba, dijadikan momentum bagi upaya tersebut, berbagai modus operandi digelar. Sebuah kelompok mantan pentolan orsospol PKI, GERWANI, dan mantan pentolan LEKRA Pramoedya Anantatoer, di awal era reformasi yang lalu membentuk tim pencari fakta atas korban pemberontakan Dewan Revolusi PKI (tentunya yang dihitung hanya yang berasal dari kelompok mereka sendiri). Silahkan dicermati, tokoh non-muslim dan non-Komunis mana yang telah memberikan
dukungan.

Di era Demokrasi Terpimpin dan NASAKOM tokoh LEKRA itu bersama komplotannya melancarkan teror politik / kebudayaan terhadap lawan lawan politiknya. Banyak tokoh cendikiawan muslim (terutama Masyumi) dipenjarakan rejim Orla yang didominasi PKI.

CGMI, organisasi mahasiswa Komunis, meneror HMI. PKI membujuk Bung Karno agar membubarkan HMI, sebab HMI menentang pemberian gelar kehormatan doktor oleh
Soekarno kepada PM Kruschev.

Akibat agitasi dan provokasi LEKRA, Buya HAMKA dipenjara oleh rejim Orla. Posisi Pramoedya di atas angin selama Orla, dipaparkan budayawan Taufik Ismail dalam MARXISME KEMBALI DIGANDRUNGI kaum muda (majalah HIDAYATULLAH Edisi 06/Th. VIII Oktober 1995).

Sementara itu Kolonel (Purn) Latief, setelah dibebaskan dari L.P. Cipinang, menggelar opsus penyesatan ("red flag operation") tentang Gerakan Dewan Revolusi PKI. Kolonel PKI itu telah sengaja menjungkir-balikkan dan memelintir fakta sejarah hitam PKI. Maling teriak maling, buruk muka cermin
dibelah, adalah ciri khas orang orang Komunis dan munafik.

Disayangkan, kelompok wartawan muda yang buta sejarah kekejian PKI - sebab rata-rata generasi kelahiran paska 1970-an - tidak mau bersusah payah menelusuri kiprah Kolonel PKI itu dalam Pemberontakan Madiun September 1948 yang diotaki FDR/PKI di bawah pimpinan Muso. Pernyataan dan pemutarbalikan fakta (sejarah) hitam PKI oleh Kolonel Latief, ditelan mentah-mentah kelompok wartawan muda sekuler dan berkualitas amatiran. Kolonel Latief berapologia bahwa ia telah dijebak Pamen TNI-AD binaan PKI, Kolonel (Cakrabirawa) Oentoeng. Ia menepis anggapan bahwa dia seorang "diehard Communist". Kolonel (Purn) Latief telah melakukan upaya maling teriak maling!

Beberapa saksi sejarah yang juga mantan TNI Tentara Pelajar BRIGADE 17 mengetahui bahwa dalam Clash I dan Clash II di Yogyakarta, Kolonel Latief waktu itu perwira dalam "Kompi Merah" di Sektor Barat Yogya. Kompi itu bagian dari Batalyon "merah" pendukung Front Demokrasi Rakyat (FDR/PKI) dalam Pemberontakan Madiun 1948.

Kesibukan kalangan TNI waktu itu menghadapi musuh utama, Belanda, menyebabkan TNI tidak sempat melakukan "bersih lingkungan" terhadap unsur militer pro FDR/PKI di Madiun. Termasuk perwira Latief yang karier militernya melejit (disusupkan PKI), sampai ke kesatuan elit Cakrabirawa pengawal Presiden Republik Indonesia.

"KOMUNISME INTERNASIONAL DAN UPAYA MEMBANGKITKAN KEMBALI KOMUNISME DI INDONESIA "(Bagian.2)

PENIPUAN BUSUK KAUM KOMUNIS


Dalam upaya menguasai bangsa Afganistan yang muslim, para pentolan militer Uni Soviet telah melakukan penipuan busuk. Moskow kirim ribuan tentara dari wilayah berpenduduk mayoritas muslim di Russia.

Pasukan muslim itu diyakinkan bahwa mereka akan menghadapi pasukan Amerika Serikat di Afganistan. Di Afganistan mereka sadar telah ditipu para petinggi militer di Moskow. Yang mereka hadapi ternyata Mujahiddin sesama muslim, maka sebagian besar tentara Soviet dari kawasan muslim itu kemudian
melakukan disersi, alias membelot.

Penguasa Komunis di Republik Rakyat Cina sama saja dalam tipu menipu. Pada awal dekade 1990-an kalangan Kongres Amerika Serikat menengarai, dalam rangka menekan biaya produksi komoditas ekspornya (antara lain sepatu), Pemerintah Republik Rakyat Cina memanfaatkan tenaga kerja "gratisan", yaitu para narapidana di penjara Republik Rakyat Cina. Begitu pula terhadap pekerja di dunia pertekstilan.

Gaji mereka amat sangat rendah, sama dengan sikap Amerika Serikat terhadap penggunaan tenaga kerja anak, Undang-Undang Perdagangan AS "Super 301" mengkategorikannya sebagai "unfair trade practice" yang layak digugat.

Namun upaya Konggres AS mencabut status Most Favored Nation Republk Rakyat Cina, selalu berhasil
dipatahkan oleh lobi kuat asosiasi pebisnis (importir/agen produk RRC) di California.

Sementara itu di awal 2000 LSM, pecinta binatang di Barat memprotes keras pembantaian massal atas kucing dan anjing di Republik Rakyat Cina. Pemerintah Republik Rakyat Cina memanfaatkan bulu binatang piaraan itu untuk bahan mainan boneka ekspor.

Selama Revolusi Kebudayaan, warga muslim Cina sekarang 200 juta orang terus ditindas. Kini jumlah jemaah haji Cina oleh Pemerintah Cina Komunis dibatasi tidak lebih dari 300 orang pertahun.

Sejarah hitam komunis di negeri ini (1927, 1948, 1965) sarat dengan kekejaman dan sikap permusuhan komunis terhadap muslim, terutama di era Demokrasi Terpimpin.

Pada akhir dekade 1950-an pemimpin revolusi Kuba Fiel Castro memimpin perlawanan terhadap diktator Batista. Sama seperti para pentolan Stalinis Bolshevic, Fidel Castro juga menebar janji-janji sorgawi pembebasan rakyat Kuba dari penindasan rejim Batista. Tetapi setelah Batista didepak, Castro dan pengikutnya melucuti rakyatKuba. Sistem poleksosbudkam Sosialis Komunis diterapkan. Rejim militer Komunis menjadi penindas rakyat Kuba!

Lain lagi Korea Utara. Seorang pembelot Korea Utara mengungkapkan, di bukunya NORTH KOREA AS I SEE IT (1970an), bahwa seluruh anak kelas Nol Korea Utara telah dicuci otak. Yaitu bahwa ayah mereka adalah Pemimpin Besar Kim Il-sung Presiden pertama Korea Utara.

KOMUNIS MENGHALALKAN SEGALA CARA, TERMASUK ADU DOMBA

Menghalalkan segala cara, termasuk adu domba antar kelompok non-Komunis, telah dan tetap dilakukan kaum Komunis di dunia. Di Tanah Air, kini dilakukan oleh mantan pentolan PKI dan sebagian keturunan dan simpatisan mereka termasuk "Communist Survivors" yang berhasil menyusup ke orsospol dan kelompok agama tertentu.

Fakta menunjukkan bahwa orang orang binaan PKI telah disusupkan di berbagai orsospol di Tanah Air.
TNI pun telah diinfiltrasi.Paman penulis (alm.) Pamen TNI-AD dalam inspeksi ke Daerah th. 1970-an
menemukan, antara lain, salah satu pelatih lempar granat di diklat militer ternyata binaan PKI.

Pada dekade 1980-an seorang Pamen TNI-AD di kota besar di Jawa Barat terbuka kedoknya sebagai binaan PKI. Departemen penting non-milier juga disusupi agent-in-place PKI. Ketika pada awal dekade 80an Mayor Jenderal Sarwo Edhy Wibowo menjabat Inspektur Jenderal DEPLU, mantan Komandan
RPKAD itu (ditulis di salah satu koran terkenal di DKI) berhasil membongkar jaringan eks PKI di DEPLU dan di Perwakilan RI di Luar Negeri.
Balasan ex-PKI "kategori B" dilengser. Tetapi satu dua orang lolos mencapai karir puncak Kepala Perwakilan RI.

Sebuah dokumen rahasia dari kalangan intelijens (1994) menyebutkan, pejabat senior di departemen penting adalah binaan Komunis negara sosial komunis ketika ybs belajar dan bekerja di Eropa Timur. Salah satu bawahannya, PNS eselon IV, bertanggung-jawab atas lalu-lintas telexs rahasia, disebutkan berayah mantan PKI kategori B.
Selama pejabat senior di unit "basah" itu jadi "Pimpro" bernilai Rp. 40-an milyar, ditenggarai sekitar Rp 3 M (1992) telah menguap. Ketegangan hubungan juga terjadi antara dua unit operasional khas, akibat favoritisme dan kroni-isme (sentimen angkatan dan unit khas) yang dikembangkan pejabat eselon dua itu.

Sementara itu pada th 1990-an, aparat Kantor Atase Pertahanan RI di AS sempat disibukkan "geriyla politik" (gerpol) seorang kandidat S-3 di kalangan PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat). Yang bersangkutan menebarkan benih perpecahan di kalangan PERMIAS.
Insinyur jebolan perguruan tinggi teknik kondang itu -- kini PNS senior Departemen penting adalah putera mantan tokoh LEKRA (Lembaga KebudayaanRakyat/PKI) yang dimakamkan di negeri Sosial komunis. Sekjen Departemen itu (1980-an), Pati dari BAKIN, dinilai telah "kecolongan". Jangan lupa, yang bersangkutan pernah jadi agitator di kalangan PERMIAS.

"KOMUNISME INTERNASIONAL DAN UPAYA MEMBANGKITKAN KEMBALI KOMUNISME DI INDONESIA "(bagian.1)

GAMBARAN PALSU KOMUNIS


Hedrick Smith, Koresponden The NEW YORK TIMES (dulu) Uni Soviet, dalam buku
THE RUSSIANS mengatakan, antara lain, "Barangkali Marx akan menggeliat di kuburnya
kalau menyaksikan Marxisme dalam praktek."

Betapa tidak, kaum Leninis yang menumbangkan rejim feodal-hedonis Tsar pada 1917,
ternyata tidak memenuhi "janji-janji sorgawi" masyarakat tanpa kelas yang dikecapkannya.

Mayoritas rakyat Russia hidup sengsara lahir-batin. Yang dikota-kota besar, seperti Moskow, hidupnya serba kekurangan pula.

Untuk membeli sepotong roti, odol, sabun, apalagi daging, mereka terpaksa antrean panjang di tengah
dinginnya salju Moskow. Sementara itu kalangan elit Politbiro Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) hidup serba cukup, punya akses pada valas untuk belanja di Duty Free.

Shop di Moskow. Bersama para perwira tinggi dinas rahasia militer GRU dan, KGB selama weekend
mereka berhura-hura; pesta minum alkohol dan "main perempuan" di Dacha (villa elit Politbiro Partai KGB - GRU) di luar Moskow.

Sementara itu puluhan juta wong cilik yang dikecapkan kaum Stalinis sebagai kaum proletar yang dimerdekakan dari ketertindasan rezim Tsar tetap keleleran kekurangan bahan pangan.

Itulah gambaran nyata tentang kepalsuan, kesia-siaan dan kemunafikan sistem
Sosialis komunis.

Masyarakat tanpa kelas sama rasa sama rata tidak pernah terwujud. Sebab memang utopi, menyalahi sunnatullah. Yang ada adalah negara diktator baru sipil-militer Komunis (1917 - 1989).

Kebebasan berserikat, berfikir dan bertindak ? sama sekali tidak ada !. Warga negara sipil bahkan diharamkan memiliki dan mempergunakan mesin ketik !.

Industri dan pertanian diatur ketat Pemerintahan Komunis. Siapapun mencoba mengkritisi Pusat bakal di-Siberia-kan atau yang lebih berat langsung dieksekusi mati dengan berbagai macam dalih dan alasan.

Lenin "juru selamat" kaum proletar di Russia, tidak diketahui pemujanya di luar Russia; ternyata orang yang sama bengisnya dengan Pol Pot. Adalah Lenin yang pada th 1930-an mengotaki pembantaian
sekitar enam juta kaum Kozak di Russia.

Kaum petani dan buruh yang mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, merupakan penghalang bagi masyarakat "sama rasa dan sama rata" di dalam sisten Komunis.

Kelas masayarakat yang mandiri seperti itu tidak bakal dapat dikuasai dan diperbudak oleh para elit Komunis. Maka, seluruh peralatan dan sarana pertanian dan industri skala kecil kaum Kozak disita.

Mereka (kaum Kozak) dibiarkan mati kelaparan !. Dan Jerman yang kemudian dikambing-hitamkan!

Rabu, 02 Juni 2010

"Rachel Aliene Corrie : Ada Cinta Tuhan Di Setiap Jiwa Manusia"

image
(Rachel Aliene Corrie In Memoriam 1979-2003)
Tanggal 16 Maret kemarin, genap enam tahun kematian Rachel Corrie, mahasiswi dan aktivis kemanusiaan asal Olympia, Washington, Amerika Serikat. Ia datang ke Jalur Gaza bersama para aktivis lainnya yang tergabung dalam International Solidarity Movement (ISM). Corrie adalah bagian dari kisah kekejaman pasukan Zionis Israel di Palestina.
Corrie masih berusia 23 tahun ketika tentara Zionis Israel melindasnya dengan buldoser buatan perusahaan Caterpillar hingga ia tewas. Peristiwa itu terjadi pada 16 Maret 2003-beberapa hari sebelum serangan AS ke Irak-di Rafah, ketika Corrie berusaha menghalang-halangi pasukan Zionis yang ingin menghancurkan sebuah rumah milik warga Palestina.
Saksi mata mengatakan, sopir buldoser Israel sengaja melindas Corrie karena saat itu posisi Corrie terlihat jelas dan mengenakan jaket warna oranye menyala. Namun laporan militer Israel yang dirilis pada bulan Juni 2003 menyebutkan apa yang terjadi pada Corrie adalah “kecelakaan”.
Organisasi-organisasi hak manusia mengkritik laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “laporan yang menipu”. Setahun kemudian, kepala staff Menlu AS ( waktu itu dijabat Collin Powell) Kolonel Lawrence Wilkerson mengatakan pada orangtua Corrie bahwa hasil investigasi militer Israel “tidak kredibel, tidak menyeluruh dan tidak transparan.”
Orang tua Corrie lalu mengajukan gugatan hukum terhadap negara Israel, Militer Israel dan perusahaan Caterpillar-perusahaan yang mengekspor kendaraan-kendaraan berat ke Israel-pada tahun 2005 atas kematian puterinya. Namun pengadilan Federal menolak gugatan itu pada tahun 2007, terutama gugatan terhadap perusahaan Caterpillar dengan alasan mereka tidak bisa menuntut perusahaan yang berbasis di Illinois itu atau menuntut Israel sebagai negara karena hal itu mengharuskan mereka untuk mengeluarkan putusan hukum terkait kebijakan luar negeri AS yang sudah ditetapkan Gedung Putih.

Dalam putusannya, tiga hakim dalam pengadilan tersebut mengatakan bahwa gugatan orangtua Corrie tidak bisa diproses lebih lanjut secara hukum. Karena jika dilanjutkan, sama artinya pengadilan harus mempertanyakan secara implisit, bahkan mengecam kebijakan luar negeri AS terhadap Israel.
Naima Shayer, warga Palestina yang bersahabat dengan Corrie mengungkapkan kenangannya tentang Corrie. Waktu itu, Corrie sudah tinggal bersama keluarga Naima selama 23 hari. Naima tahu berita kematian Corrie dari keponakan perempuannya. Ia masih tak percaya karena beberapa jam sebelumnya, Corrie masih segar bugar dan mencium Naima berkali-kali sambil mengucapkan selamat tinggal. Naima tidak berfirasat buruk karena Corrie memang sering bersikap seperti itu.
Tapi ketika ia menyaksikan berita kematian Corrie di televisi karena dilindas buldoser Israel. Barulah ia percaya. Naima dan keluarga hanya bisa menangis. “Dia sangat baik pada kami. Dia sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri,” kata Naima mengenang Corrie.
Hari ini, para aktivis ISM di kota Rafah memperingati enam tahun kematian Corrie dengan menerbangkan layang-layang. Satu layang-layang diterbangkan untuk memperingati kematian Corrie dan 14 layang-layang diterbangkan untuk menghormati sekitar 1.400 warga Gaza yang menjadi korban agresi brutal Israel bulan Januari kemarin.
Rachel Corrie
Jika Anda bertanya, ”Siapa dia?” Jawabnya: Dia gadis cantik, muda, energik dan mempesona. Lahir dan besar di tengah keluarga Kristen, di Olympia, Washington, Amerika Serikat. Beberapa hari sebelum kematiannya, sebuah Koran harian di Inggris memajang fotonya yang berjilbab di kolom Head line; ketika pertengahan Februari 2003, dia dan pegiat kemanusiaan anti-penjajahan berdemonstrasi di Tepi Barat, lalu di jalur Gaza  Palestina, menentang pemugaran paksa rumah-rumah penduduk Palestina oleh militer Israel.
Aktivis-aktivis gereja berbangga karena Rachel lahir sebagai Kristiani yang konsisten berjuang sejak Olympia, Rusia, hingga Palestina. Orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai penyambung lidah mereka, bahwa mereka tak setuju dengan pendirian rezim Zionis, Israel. Kaum Muslim, terutama warga Tepi Barat, Palestina, menegaskan bahwa Rachel Corrie belajar bahasa Arab, belajar membaca al-Quran sebelum dilindas Buldozer Israel dan mempersembahkan jiwanya untuk tegaknya keadilan.
Lazimnya, seorang anak, apalagi perempuan, mendapat warna orang tua dalam memilih ”dunianya.” Berbeda dengan Rachel Corrie, justru pengaruhnya teramat besar bagi kedua orang tua, saudara, serta kawan-kawannya. Rachel Corrie telah mencipta ”atmosfer keluarga” dengan nafas cinta kemanusiaan. Semula, keluarga, terutama mama Rachel menghendakinya urungkan niat berangkat ke Palestina. Tapi, Rachel menjawab singkat, ”Ma, telah kukemasi barang-barang yang kubutuhkan di sana (Palestina).” Sekarang seluruh keluarga Rachel menjadi penggiat lingkungan-hijau yang anti-fasis, anti-penjajahan, dan anti-rasisme.
Tak berhenti sampai di situ. Setelah kematiannya, pengaruh Rachel semakin kuat. Sekuat cita-citanya, rachel menggurat pena. Tulisannya menjadi inti api yang memantik lentera-lentera di berbagai penjuru dunia untuk memberi tahu; ada cinta Tuhan di setiap jiwa manusia. ”Inilah titik temu setiap insan. Maka dengan cinta-Nya, gelarlah permadani cinta untuk menari seirama gendang cinta,” ujar Rachel. Naskah catatan harian Rachel Corrie dipentaskan di berbagai Negara; Inggris, Jerman, Italia, Amerika Serikat dan lainnya. Ini bukti bahwa Buldozer Caterpilar D-9 Israel yang mengupas kulit kepala dan meremukkan tulang punggung Rachel tak mampu membungkam suara keadilan yang diujar gadis Olympia itu. Rachel tetap hidup, terutama di sanubari para pecinta keadilan, kedamaian dan kebenaran.
Rachel menegaskan jati diri sebagai penulis dan pelukis. Ada ”warna cerah” dalam tulisannya. Ada haru yang ”gagah” di bait-bait essaynya. Ada canda di gambar-gambarnya. Di puisinya, ada kata yang menari, lalu mencambuk, seperti petir melecut mengakhiri mimpi panjang para pengantuk. Kemudian, ada mata menitikkan bulir-bulir bening saat membaca catatan-catatannya.
Bila kata terujar mulutku tak berarti, biarkan ia mengambang sesaat di udara. Kan kujadikan itu kata-kata canda menghibur hingga kelak kucipta kalimat bermakna mengitarinya. Kumau terbang melayang untuk berkibar…. Beri aku jedah waktu, jangan komentari… Biarkanku menari, mengitari kelopak bunga lily. Kemudian melesat bagai air mancur, terbang menyertai kata-kataku yang tak berarti itu. Kalimat-kalimat ini adalah petikan salah satu catatannya. Kuat dan inspiratif. Seperti penegasannya, ”Beri aku jedah waktu, jangan komentari…” betapa dia sangat menghargai proses menjadi manusia. Dia yakin, tak ada yang sia-sia dari setiap imajinasi yang terujar merdeka.
Imajinasi Merdeka. Ia adalah racikan rasio dan rasa. Hasilnya adalah kekuatan tak tertakar. Ia sublim bersama pemiliknya sebagai energi hidup dan kehidupan. Saat menjelma sebagai tulisan, ia mencabar setiap pembaca waras. Ketika mewujud dalam perilaku, imajinasi merdeka adalah “pijar matahari” membakar setiap sudut gelap penghambat kemanusiaan.
Rachel Corrie, mengabadikan cita-cita cinta dan kemanusiaannya melalui catatan-catatan hariannya. Semua tulisan dan gambarnya ”berbicara” lugas dan berenergi. Dia beritahu dunia, bagaimana cara menjadi manusia. Dengan akal sehat, lalu kata yang waras, tulisan yang hidup, tindakan yang benar, semua telah dilakukan Rachel, di Palestina.
Rachel Corrie. Sejak Olympia Movement for Justice and Peace (OMJP), Olympians for Peace in the Middle East (OPME), Students Educating Students about the Middle East (SESAME), Olympia Fellowship of Reconciliation (FOR) hingga International Solidarity Movement (ISM) disuplai energi kemanusiaan olehnya untuk meneriakkan kata “Merdeka!” Karena penjajahan yang diprakarsai negaranya (AS), Inggris dan Negara-negara Eropa masih berlangsung di hampir setiap sudut bumi ini.
Dengan pilihan merdeka, Rachel Corrie pergi ke Palestina. Rachel mempelajari isu tak masuk akal Palestina yang berhembus ke telinga dunia dengan kata “konflik” Palestina-Israel. Akhirnya dia dapati kenyataan bahwa Israel menjajah Palestina sejak lebih setengah abad lampau.
“Rachel, untuk pergi ke Palestina, kewajibankah? Tak seorangpun menyalahkanmu untuk mengurungkan niat itu,” ujar Mama Rachel. Rachel menjawab pasti, “Barang-barang sudah kukemas. Rasa takut itu manusiawi. Tapi kupikir, melakukannya tak mustahil. Harus kucoba, Mam.” Seatraktif apapun bujukan keluarganya, niat Rachel tak tergoyahkan. Tekad telah bulat, “Goodbye Olympia…”
Januari 2003. Rachel berangkat ke Israel untuk transit ke Tepi Barat. Setibanya di tanah para pengungsi itu, dia langsung bergabung bersama insan internasionalis (dari Inggris, Jerman, Itali dll) di International Solidarity Movement (ISM); wadah para pegiat kemanusiaan anti penjajahan. Pergerakan ini hanya memiliki dua syarat partisipasi: Pertama, pegiatnya yakin bahwa bangsa Palestina berhak merdeka berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB. Kedua, pegiatnya hanya menggunakan cara tanpa kekerasan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina.
Ketika tiba di Rafah, Rachel saksikan tank, bulldozer, menara-menara sniper dan pos-pos penggeledahan Israel bertengger di antara puing-puing bekas pemukiman penduduk Gaza. Tembok baja raksasa dibangun di reruntuhan dekat perbatasan Mesir. Matanya menyapu sekeliling; tampak orang-orang Palestina bertahan, meski penindasan terus berlangsung. Wajah-wajah lusuh itu menjalani hidup serba kekurangan, menderita dan menunggu giliran direnggut maut. Itulah kisah jejakan pertama Rachel di bumi Palestina, seperti yang dikisahkan Craig Corrie, Mama Rachel Corrie.
Rachel abstraksikan bahaya di daratan gersang itu. Debam-debam ledakan nyaris tak berjedah diselingi suara peluru-peluru yang dimuntahkan. Sesekali jerit ketakutan penduduk samar terdengar. “Bisakah kau dengar itu…? Bisakah kau dengar itu…?” ujar Rachel terbata-bata saat pertama kali menelepon mamanya dari rumah seorang Palestina tempat dia tinggal.
Di Rafah, Rachel dan penggiat kemanusiaan lainnya menjadi benteng hidup, berdiri mengelilingi pekerja air kota Palestina yang menggali sumur. Dia hadang moncong laras panjang sniper-sniper militer Israel yang berada di menara benteng. Desir angin panas membahanakan deru misil-misil, tak hanya di Palestina, tapi ke seantero jagad.
Rachel dan rekan-rekan terus berdiri mengelilingi sumur-sumur yang sedang digali para pekerja hingga lewat tengah malam. Demi setetes air agar basahi tenggorokan pengungsi Palestina yang terkurung sejak lama di bui Gaza. Hanya itu satu-satunya cara, setelah kebun zaitun penduduk Palestina dilindas buldoser-buldoser tentara IDF (tentara pertahanan Israel), setelah tentara-tentara Israel menimbun sumur-sumur dengan puing-puing rumah penduduk.
Rachel mengasuh bocah yatim massal Palestina dalam naungan Children’s Parliament. Merekalah yang memantapkan kedewasaan Rachel. Melalui mereka, Rachel bisa berbahasa Arab. Melalui Rachel mereka berkenalan dengan bahasa Inggris.
Meski berada dalam situasi gawat di Rafah, Rachel dan kawan-kawan sempat berdemonstrasi menentang militer AS yang meluluhlantak Irak pada 15 Februari 2003. “Ini salah satu tragedi terbesar dalam sejarah,” tutur Rachel.
Kampung halaman: Olympia atau Gaza? Di mata Rachel sama pentingnya. Rachel menjadi tambang yang menyimpul komitmen persaudaraan Gaza-Olympia. Wanita, anak-anak bergabung dalam pekan raya persaudaraan prakarsa Rachel itu.
Rachel menghadang tentara IDF yang hobi meluluhlantak pemukiman penduduk Palestina terutama Gaza. Rachel sengaja menghuni rumah penduduk yang menjadi incaran buldoser-buldoser Zionis-Israel. Rachel sadar, hak hidup merdeka milik semua bangsa, termasuk bangsa Palestina. Ya, Rachel tahu, hukum internasional harusnya melindungi ribuan orang di Rafah, Jalur Gaza. Tak ada hak siapapun untuk memusnahkan bangsa lain, apapun dalihnya, termasuk dalih pendirian negara ilegal Israel dan perluasan wilayahnya oleh IDF dengan membasmi penduduk di daratan berbatasan Mesir itu.
16 Maret 2003. Bersama tujuh pejuang internasional kemanusiaan dari Amerika dan Inggris, Rachel rela menjadi benteng hidup agar sisa rumah-rumah warga Palestina selamat dari serudukan buldoser Caterpillar D-9R milik tentara Israel. Rachel dan aktivis ISM lainnya yakin, bangsa Palestina berhak hidup aman di rumah mereka, di sekolah bahkan di dalam bis. Rachel berprinsip; penjajahan Israel atas bangsa Palestina harus berakhir secepatnya. Pembantaian tak pernah dilakukan orang-orang beradab, apalagi dengan dalih perluasan wilayah. “Mungkin aksi damai efektif sebagai solusi hingga terhenti pembantaian orang-orang Palestina. Sebagaimana penduduk Amerika dan seluruh dunia bisa hidup merdeka, demikian Palestina,” tutur Rachel.
16 Maret 2003. Dua bulldoser dan tank-tank Israel melaju kencang di jalanan Hi Salam, Rafah, Jalur Gaza, perbatasan Mesir menuju rumah-rumah penduduk Palestina. Satu buldoser dikendarai operator, dipandu seorang tentara yang berhenti tepat di depan rumah Nasrallah, salah satu keluarga di Rafah. Sudah beberapa hari Rachel tinggal di dalamnya. Bukan sekedar menumpang tidur, tapi Rachel sengaja menghendaki tentara IDF mengurungkan niat membongkar rumah itu karena keberadaannya. Juga, Rachel menegaskan tekadnya untuk bersama warga Palestina memperjuangkan kemerdekaan. Kesan seram ini dipotret Rachel melalui e-mail yang dikirim kepada Mamanya: Dua kamar depan rumah mereka tak dapat digunakan. Dinding-dindingnya hancur ditembus peluru Israel. Seluruh anggota keluarga; tiga anak dan dua pasang suami istri tidur di ruang tengah. Aku tidur di lantai bersama anak perempuannya, Iman dalam satu selimut.
Sekitar jam 5 sore, buldoser meraung-raung meminta tumbal. Saat melintas, rantai roda baja itu menyemburkan onggokan tanah kering hingga menimpuk aktivis-aktivis yang menjadi benteng hidup rumah warga Gaza itu. Seorang aktivis Amerika terlempar berguling-guling sebelum akhirnya tersangkut di kawat berduri dan seorang aktivis Inggris terjepit dinding. Buldoser D9R Israel siap melindas rumah itu, Rachel bergegas lari menghampiri. Dia tahu, keluarga Nasrallah berada di dalamnya. Dia hadang buldoser itu selayak Polantas menghentikan mobil di jalan raya. Aksi ini biasa dilakukan aktivis ISM sebelumnya.
Buldoser Israel tak berhenti. Aktivis-aktivis ISM lain menjerit histeris melambai-melambaikan tangan. Mereka ketakutan. Raungan buldoser menindih semua suara. Melihat D-9R semakin bergairah menyeruduk, Rachel berupaya memanjat gundukan tanah yang dikeruk pisau buldoser agar tak tertelan. Posisi Rachel di atas gundukan itu cukup tinggi, pasti tentara IDF yang mengoperasikan kendaraan baja itu melihatnya. Tapi serdadu itu tetap tancap gas. Rachel terbanting kemudian terseret pisau Bulldozer. D9R terus melaju. Rantai-rantai baja bergemeretak melindas Rachel, kemudian mundur. Tersisa tubuh hancur Sang gadis Olympia.
Teman-teman Rachel bergegas menghampiri. Rachel masih hidup kala itu. Dia sempat berkata, “Sepertinya punggungku remuk.’’ Tak lama ambulan Palestina datang. Saat itu dipastikan tiada harapan hidup bagi Rachel. Gadis berambut pirang itu dinyatakan meninggal beberapa saat setelah tiba di rumah sakit lokal.
Sayang, Rachel Corrie berada di pihak yang “salah.” Dia mati dilindas buldoser Israel. Karena alasan itulah pemerintahnya (Amerika Serikat) mendiamkan dan menghentikan kasusnya.
Rachel Corrie, abadilah namamu sebagai pejuang kemanusiaan. Engkaulah energi hidup yang menghidupkan.
* Kumpulan catatan Rachel Corrie sejak Rusia hingga Palestina berikut reportasenya selama di Gaza pada akhir 2002 dan 2003 diabadikan dalam sebuah buku berjudul : LET ME STAND ALONE: Goresan Pena Gadis Amerika yang Dilindas Buldoser Israel Hidup-hidup di Palestina.
image
“Inilah titik temu setiap insan. Maka dengan cinta-Nya, gelarlah permadani cinta untuk menari seirama gendang cinta” Rachel Corrie, 1979-2003
image
Bulldozer Caterpillar D9R yang digunakan oleh IDF (Israel Defence Force).
image
Rachel Corrie (berjaket Orange) sesaat sebelum insiden terjadi. Disini jelas Rachel Corrie berada pada jarak pandang si pengemudi Bulldozer.
image
Rachel Corrie tergeletak tak berdaya setelah dilindas oleh Bulldozer IDF
image
Rachel Corrie, Meninggal sesaat setelah ditabrak oleh bulldozer tentara Israel karena luka-luka yang cukup parah.
image
Sebuah Tugu kecil yang bangun oleh rakyat Palestina untuk memperingati kematian Rachel Corrie.
image
Orangtua Rachel Corrie, Cindy dan Craig Corrie. beberapa kali mereka menyempatkan diri mengunjungi tepi barat setelah kematian Rachel Corrie.
image
Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di kota Olympia, tempat kelahiran Rachel menuntut dilakukannya investgasi penuh atas insiden yang terjadi.